Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 23 November 2010

the adventure of snail

Barusan membuka website national geography, lihat foto-foto nya, dan sepintas melihat foto siput. Siput, hewan ini menjadi begitu menarik karena Gary the snail, hewan peliharaan Spongebob Squarepants, (paling tidak menarik buat ku,haha). Dulu pas masih kecil, musim masih banyak sekali siput di sekitar rumah ku, ada seekor siput yang berjalan di tengah jalan raya depan rumah. Langsung saja ku pindahkan siput itu ke pinggir jalan. Mama ku langsung bilang, kalo jangan dipindahkan, si siput sudah susah-susah jalan buat menyebrang ke sebelah. Jadinya, ku ambil dan ku pindah kan lagi ke jalan di sebrang nya lagi, hitung-hitung membantu si siput supaya jangan digilas kendaraan yang lewat,yah, paling tidak itu pikiran ku saat itu. Kemudian, tiba di saat aku sedang gemar-gemar nya membaca anekdot-anekdot dan kisah-kisah seperti komik nya konfusius (cailah, gambarnya bulat-bulat, biar kata saat itu tidak mengerti apa ceritanya, yang penting hobi karena memang gambarnya menarik buat dilihat, hahaha), ada suatu cerita tentang betapa kerasnya perjuangan seekor siput untuk menyebrang jalan setapak, si siput tidak perlu dibantu, karena ia "menikmati" perjuangannya untuk sampai ke seberang jalan dan karena memang itu jalan yang harus ia tempuh dan ia lakukan meskipun ada kemungkinan dapat mati saat menyeberang jalan itu. Jika berhasil sampai ke seberang jalan, ia akan mendapat "tabungan" kisah keberhasilan dalam hidup si siput yang mungkin tidak seberapa bagi diri nya (sudah bolak-balik mungkin setiap hari langgar jalan,haha). Jika gagal, si siput hanya akan menjadi kisah "rata dengan aspal", seperti yang kadang ku temukan dulu. Kesimpulan? Jalani hidup dengan melakukan atau beraksi, jangan hanya duduk dan berangan-angan. Kalau saja si siput bisa berangan-angan (mungkin bisa?) dan berpikir resiko tergilas, ia tidak akan sampai di seberang jalan. Ia hanya berkisar di sisi jalan yang sama dan tidak bergerak kemana-mana dan hanya itu-itu saja dunia nya, bagi nya, sisi jalan ia berada adalah dunia. Setelah menyeberang jalan, si siput sadar bahwa dunia lebih daripada itu. Yah, ini lah bedanya, si siput tidak berpikir macam-macam dan hanya menjalani dunia nya sedangkan manusia mikir kemana-mana sampai tidak bisa jalan melihat dunia yang lebih luas dalam hidup nya dan merasa takut untuk "hidup".
Sekarang, di sekitar rumah sudah tidak ada lagi siput-siput. Sejak SMP kelas 2, siput-siput sudah menghilang entah kemana. Mungkin sudah pada migrasi karena musim hujan yang sudah tidak teratur dan daerah sekitar rumah yang sudah tidak sesubur dan selembab dulu. Kondisi nya lebih gersang. Yah, bisa dibilang kangen juga sama siput-siput itu.

Tidak ada komentar: