Sedikit cerita tentang kehidupan biasa,, kehidupan saat di jalan, di kantin, di kuliah, sampai saat sedang menunggu sesuatu,,,,
Tampilkan postingan dengan label saat di masa kini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saat di masa kini. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Mei 2010
"Tidak sesederhana itu"
Ada yang pernah bilang, "Hal ini tidak bisa dipikirkan seperti itu. Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan sesederhana itu". Pertanyaan yang timbul, kerumitan seperti apa? Kenapa tidak dapat dijelaskan kerumitan yang dimaksud (dengan alasan : yang diajak bicara masih belum bisa memahami karena belum pernah mengalaminya)? Bagaimana bisa paham (yang diajak bicara) jika bahkan untuk mencoba menjelaskan saja tidak mau? Padahal dengan bangga para pembicara mendeklarasikan bahwa sumber masalah nya adalah tidak komunikasi. Lucu sebenarnya. Hal yang memang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah dibuat menjadi rumit. Toh hal benar sebagai patokan sudah jelas benar dan sederhana, lalu kenapa harus memilih hal yang berlarut-larut dan tidak jelas kapan selesai nya? Apa yang sedang dijaga? Apa yang sedang ingin dicapai? Andai kata sesuatu yang benar itu salah, apa salah nya menjadi sedikit bijaksana untuk mengakui yang salah sebagai benar demi menjaga sesuatu yang lebih berharga? Jika dibalik, kenapa tidak diri sendiri yang menjadi "bijaksana" dengan merelakan membenarkan yang salah? Kembali lagi pada pertimbangan mana yang memiliki "keuntungan" lebih banyak untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Mungkin slogan iklan "yang gag penting itu penting" ada benarnya. Toh setiap orang punya kepetingan untuk diri nya sendiri. Sudah seperti kisah sinetron, sesuatu yang seharusnya selesai dibuat berlarut-larut.
Selasa, 02 Februari 2010
Jalani saja
Sepi. Kadang memang seperti itu, sendirian memang terasa lebih aman tetapi terasa sepi. Soal rasa-merasakan memang tidak ada habisnya. Merasa kesepian kadang bisa membuat hidup serasa monoton. Penyebabnya, rasa kesepian itu membuat malas untuk melakukan apapun, menonton tv pun cenderung hanya menatap gambar bergerak tersebut dengan tatapan kosong. Memang, berasa tampak seperti orang di ftv-ftv yang baru patah hati. Kalau sudah begini, obatnya hanya mendorong diri sendiri untuk melakukan sesuatu, melakukan hal-hal yang memang sudah menjadi kewajiban. Kalau masih awal terasa berat, itu biasa, mulai saja lagi dengan berkumpul dan mendengar percakapan orang lain. Coba lah tertawa jika orang lain tertawa. Perlahan dengan sendirinya, rasa humor akan datang dengan sendirinya. Kerjakan kewajiban (meskipun terasa malas) seperti seakan hal tersebut hal yang menarik. Jika pikiran sudah bisa menerima bahwa hal tersebut menarik, hal tersebut akan menjadi menarik.
Menurut pengalaman sendiri, tindakan dipengaruhi oleh pikiran. Pikiran sendiri dapat di"set" oleh kemauan. Tentang bahagia, tidak perlu dicari caranya. Kalau memang ingin bahagia, ya bahagia saja, hanya itu. Seseorang menjadi seperti apa yang dipikirkannya.
Menurut pengalaman sendiri, tindakan dipengaruhi oleh pikiran. Pikiran sendiri dapat di"set" oleh kemauan. Tentang bahagia, tidak perlu dicari caranya. Kalau memang ingin bahagia, ya bahagia saja, hanya itu. Seseorang menjadi seperti apa yang dipikirkannya.
Rabu, 09 September 2009
Pemaafan
Cerita tentang bekas luka parut karena terjatuh dari sepeda semasa kecil cukup sering ku ceritakan untuk sekedar basa-basi ataupun mengingat-ingat sendiri bagaimana rasa nyeri nya (entah bagaimana, rasa sakit nya terasa bisa membuat orang kangen dengannya) saat proses penyembuhan berlangsung. Saat luka itu sembuh, timbul bekas luka parut memanjang yang cukup tampak dari jarak dekat. Luka parut itu sering ku tekan, entah darimana datangnya kebiasaan itu, tapi percaya atau tidak, rasa nya menyenangkan. Setiap kali menekannya, ada ingatan tentang luka disana, ingatan tentang bagaimana luka itu tercipta saat sedang memacu sepeda dengan kencang pada jalan menurun dan berbatu yang rasanya menyenangkan. Teringat juga rasa sakit berlebihan yang tidak menyenangkan saat luka itu baru saja tercipta, tidak menyenangkan rasanya.

Luka parut muncul saat luka nya besar, tidak beraturan, dan kotor. Seperti itulah kalau “luka” dalam pikiran. Saat sedang merasa orang lain berusaha menyingkirkan ataupun tidak mempedulikan ataupun berbuat apapun yang tidak berkenan, rasa sakit saat luka pertama muncul, rasa yang tidak menyenangkan itu muncul. “Luka” itu bagi ku sebaiknya dibersihkan, dengan memaafkan yang berperan sebagai “disinfektan” yang menambah rasa perih sementara tapi membantu penyembuhan diri sendiri setidaknya mendekati kondisi keseimbangnya. Memaafkan bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri, diri sendiri seperti mendapat sebuah luka terbuka yang memang membutuhkan untuk dibersihkan. Memaafkan memang sulit seperti luka yang diberi alcohol yang member kejutan rasa perih yang berlebih. Setelah itu, entah bagaimana, rasa sakit saat penyembuhan luka terasa begitu menyenangkan. Bahkan menurutku, rasanya bisa membuat ketagihan, yaitu rasa damai yang perlahan menjalar. Pengurangan rasa sakit perlahan saat penyembuhan “luka” itulah yang membawa rasa damai (sepertinya rasa itu datang karena aku tahu semuanya akan baik-baik saja dan akan sembuh) dan akan bisa seperti candu. Bukan berarti rasa sakit saat penyembuhan itu seperti candu lalu menyusahkan diri sendiri dengan mencari-cari “luka” yang seharusnya tidak muncul lewat member cap masalah pada hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Pikiran seperti tubuh, memiliki kemampuan terbatas dan masih harus mempersiapkan dirinya dari “luka-luka” sebenarnya.

Tentang luka parut, tidak lagi terasa sakit jika ditekan tapi akan tetap membawa ingatan bahwa disana pernah ada luka, dan rasanya nyaman. Rasanya memang tidak sama dengan “bagian” yang tidak pernah mendapatkan “luka”. Tampak nya memang tidak begitu indah bagi orang yang tidak mendapatkan “luka” di tempat yang ia lihat pada dirinya sendiri. Bagi diri sendiri, “bekas luka” itu punya cerita sendiri dan tidak perlu takut jika suatu hari akan terlihat oleh orang lain, karena itu lah hidup diri sendiri, bukan hidup orang lain. Rasa nyaman saat menekan “luka parut “ itu muncul dari diri sendiri bahwa “aku berhasil menyembuhkan diri ku sendiri”. Sesaat sebelum mendapat luka pun menyenangkan seperti kesenangan memacu sepeda kecepatan tinggi di jalan yang berbatu, setelah itu terpeleset dan luka. Hal ini menggambarkan apa yang terjadi itu bukan salah orang lain tapi sebagai akibat dari apa yang dilakukan. Apa pun itu, darimana pun datangnya luka itu, aku percaya semuanya ada timbal balik, tidak ada yang tidak mendapatkan apa-apa dan kehilangan tanpa mendapat apa yang baru. Paling kurang, sudah ada pengalaman dan memori dari “luka” yang didapat yang dapat digunakan di masa depan. Tidak ada yang sia-sia.

Luka parut muncul saat luka nya besar, tidak beraturan, dan kotor. Seperti itulah kalau “luka” dalam pikiran. Saat sedang merasa orang lain berusaha menyingkirkan ataupun tidak mempedulikan ataupun berbuat apapun yang tidak berkenan, rasa sakit saat luka pertama muncul, rasa yang tidak menyenangkan itu muncul. “Luka” itu bagi ku sebaiknya dibersihkan, dengan memaafkan yang berperan sebagai “disinfektan” yang menambah rasa perih sementara tapi membantu penyembuhan diri sendiri setidaknya mendekati kondisi keseimbangnya. Memaafkan bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri, diri sendiri seperti mendapat sebuah luka terbuka yang memang membutuhkan untuk dibersihkan. Memaafkan memang sulit seperti luka yang diberi alcohol yang member kejutan rasa perih yang berlebih. Setelah itu, entah bagaimana, rasa sakit saat penyembuhan luka terasa begitu menyenangkan. Bahkan menurutku, rasanya bisa membuat ketagihan, yaitu rasa damai yang perlahan menjalar. Pengurangan rasa sakit perlahan saat penyembuhan “luka” itulah yang membawa rasa damai (sepertinya rasa itu datang karena aku tahu semuanya akan baik-baik saja dan akan sembuh) dan akan bisa seperti candu. Bukan berarti rasa sakit saat penyembuhan itu seperti candu lalu menyusahkan diri sendiri dengan mencari-cari “luka” yang seharusnya tidak muncul lewat member cap masalah pada hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Pikiran seperti tubuh, memiliki kemampuan terbatas dan masih harus mempersiapkan dirinya dari “luka-luka” sebenarnya.
Tentang luka parut, tidak lagi terasa sakit jika ditekan tapi akan tetap membawa ingatan bahwa disana pernah ada luka, dan rasanya nyaman. Rasanya memang tidak sama dengan “bagian” yang tidak pernah mendapatkan “luka”. Tampak nya memang tidak begitu indah bagi orang yang tidak mendapatkan “luka” di tempat yang ia lihat pada dirinya sendiri. Bagi diri sendiri, “bekas luka” itu punya cerita sendiri dan tidak perlu takut jika suatu hari akan terlihat oleh orang lain, karena itu lah hidup diri sendiri, bukan hidup orang lain. Rasa nyaman saat menekan “luka parut “ itu muncul dari diri sendiri bahwa “aku berhasil menyembuhkan diri ku sendiri”. Sesaat sebelum mendapat luka pun menyenangkan seperti kesenangan memacu sepeda kecepatan tinggi di jalan yang berbatu, setelah itu terpeleset dan luka. Hal ini menggambarkan apa yang terjadi itu bukan salah orang lain tapi sebagai akibat dari apa yang dilakukan. Apa pun itu, darimana pun datangnya luka itu, aku percaya semuanya ada timbal balik, tidak ada yang tidak mendapatkan apa-apa dan kehilangan tanpa mendapat apa yang baru. Paling kurang, sudah ada pengalaman dan memori dari “luka” yang didapat yang dapat digunakan di masa depan. Tidak ada yang sia-sia.
Selasa, 24 Maret 2009
Insomnia
Insomnia, malam ini 02.10 pagi belum tidur dan lagi menonton Mtv insomnia. Nonton acara ini sambil ketawa-ketawa sendiri malam-malam menjelang pagi gara-gara peran pasangan Aa' dan Eek, kamar tetangga jadi agak berasa horor kali ya. Sepi nya kalau mulai jam 1-an pagi. Suara kipas jadi berasa gede degedeg-gedeg, suara tv yang hanya bervolume 12 terdengar seperti volume 30 saking sepinya malam. Sebenarnya kalau dibilang belum tidur di jam-jam pagi dini hari seperti ini bukannya tanpa rasa kantuk, rasa kantuk mendera dengan sangat amat sampai pusing nih otak kiri dan belakang. Apa daya diri ini, tiap kali berbaring bahkan sampai berjam-jam, tetap saja sadar, ini kah namanya insomnia? May be yes, may be no. Sementara ini no problem lah insom, toh tugas besok hanya ngucek baju yang menggunung dengan air dan detergen. Nah, kasus sekarang adalah rasa lapar yang mendera. Weleh, enakan main feeding frenzy.
Jadi ingat film Meteor Garden dengan pemeran utama Jerry Yan, si Tao Ming Tse. Rasa-rasanya jaman SMP kalau melihat film itu, khususnya Jerry Yan, duh, keren nya tuh manusia (cakep banget!). Nah, belakangan film itu diputar lagi tiap jam 9 pagi. Ya ampun, setelah ditonton lagi, Si Tao Ming Tse yang dulu nya tampak begitu CAKEP dan SANGAR menjadi begitu keibuan. Tokoh Lei, dulu rasanya kul-kul gimana gitu manjadi begitu cantik bagai putri tidur yang selalu kurang tidur dan selalu lemas kapan saja dan dimana saja jika ditonton saat sekarang. Nonton film itu rasa nya merinding-geli sendiri, apalagi pada bagian dialog-dialog lopelope, jadi mendingding. Meskipun begitu, masih ada bagian dari cerita film itu yang masih berkesan. Tentang kalimat Xi men kalau masalah bisa dilihat lebih jernih saat orang tidak serius memikirkannya. Si Vannes (lupa namanya dalam film), setiap kali ada adegan-kibas-rambut seperti iklan shampo atau produk perawatan rambut. Film Meteor Garden, memang punya kenangan khusus saat SMP, cailah,, soalnya, Meteor Garden seperti pahlawan bangkitnya drama Taiwan jadi tenar semasa awal remaja,,heheheh...
Jadi ingat film Meteor Garden dengan pemeran utama Jerry Yan, si Tao Ming Tse. Rasa-rasanya jaman SMP kalau melihat film itu, khususnya Jerry Yan, duh, keren nya tuh manusia (cakep banget!). Nah, belakangan film itu diputar lagi tiap jam 9 pagi. Ya ampun, setelah ditonton lagi, Si Tao Ming Tse yang dulu nya tampak begitu CAKEP dan SANGAR menjadi begitu keibuan. Tokoh Lei, dulu rasanya kul-kul gimana gitu manjadi begitu cantik bagai putri tidur yang selalu kurang tidur dan selalu lemas kapan saja dan dimana saja jika ditonton saat sekarang. Nonton film itu rasa nya merinding-geli sendiri, apalagi pada bagian dialog-dialog lopelope, jadi mendingding. Meskipun begitu, masih ada bagian dari cerita film itu yang masih berkesan. Tentang kalimat Xi men kalau masalah bisa dilihat lebih jernih saat orang tidak serius memikirkannya. Si Vannes (lupa namanya dalam film), setiap kali ada adegan-kibas-rambut seperti iklan shampo atau produk perawatan rambut. Film Meteor Garden, memang punya kenangan khusus saat SMP, cailah,, soalnya, Meteor Garden seperti pahlawan bangkitnya drama Taiwan jadi tenar semasa awal remaja,,heheheh...
Sabtu, 07 Maret 2009
nothing too good, nothing too bad
Tentang apa ini? Hidup? Tidak juga.
Kadang ada rasa syukur karena telah hidup di dunia yang tidak abadi ini, kadang ada saja kebingungan aneh sampai-sampai terbesit pikiran ingin mengakhirinya lebih awal dan melontarkan pertanyaan klasik "mengapa Manusia diciptakan kalau nantinya akan mati?". Semua yang baik itu berbatas dan tidak berlebihan. Apakah itu jawabannya? Bagi ku sudah. Aku percaya bahwa semua di dunia ini berbatas, ketidaktahuan lah yang membuat sesuatu disebut tidak-terbatas. Batas dan ruang, semua itu nyata. Karena itu, mengakhiri hidup lebih awal, yang berarti belum mencapai batas nya, membuat orang menderita meskipun di bibir terucap "mungkin ini yang terbaik dan sudah jalannya".
Kadang ada rasa syukur karena telah hidup di dunia yang tidak abadi ini, kadang ada saja kebingungan aneh sampai-sampai terbesit pikiran ingin mengakhirinya lebih awal dan melontarkan pertanyaan klasik "mengapa Manusia diciptakan kalau nantinya akan mati?". Semua yang baik itu berbatas dan tidak berlebihan. Apakah itu jawabannya? Bagi ku sudah. Aku percaya bahwa semua di dunia ini berbatas, ketidaktahuan lah yang membuat sesuatu disebut tidak-terbatas. Batas dan ruang, semua itu nyata. Karena itu, mengakhiri hidup lebih awal, yang berarti belum mencapai batas nya, membuat orang menderita meskipun di bibir terucap "mungkin ini yang terbaik dan sudah jalannya".
Jumat, 13 Februari 2009
Valentine's day
Aw,,Ow,,hari ini tanggal 13 Februari,hari Jumat,,
dekat-dekat hari valentine,di tv isinya tentang ramenya penjualan coklat-coklat berbentuk lucu dan penuh nuansa unsur merah atau pink.
Hari valentine,tepatnya hari-hari sebelum penyambutan datangnya hari tersebut, rasanya menyenangkan. Hmm,rasa senang ini bukan karena hari kasih sayang itu, tapi terlebih karena dijualnya coklat-coklat dengan berbagai bentuk dengan rasanya wow,wanginya yang adu-duh, dan paling penting rasanya yang manis-manis pahit. Waktu masih di Malang, deh,enak nya bisa beli coklat-coklat buatan tangan. Sekarang mah di Surabaya, makan coklat yang beli di Giant saja lah. Maklum, tanpa transport dan pengetahuan (baca: kurang gaul,,hahaa), tiada tempat yang bisa dikunjungi untuk mencari barang so sweet itu. Kalau ada yang mau ngasih, akan diterima dengan sukarela kok,hehe.
Tanggal 13 hari Jumat, tadi ada artikel di Kompas.com tentang phobia angka 13 dan hari Jumat. Mitos-mitos yang menyenangkan kalau ada kisah-kisahnya.Ditambah lagi kalau malam harinya nonton film horor , suasana yang mendukung, nonton sendirian, deh, sensasi horor. Sesekali pasti menyenangkan. Asal jangan muncul yang beneran saja,heheheh. Heh, tiba-tiba jadi ingat rumah.
dekat-dekat hari valentine,di tv isinya tentang ramenya penjualan coklat-coklat berbentuk lucu dan penuh nuansa unsur merah atau pink.
Hari valentine,tepatnya hari-hari sebelum penyambutan datangnya hari tersebut, rasanya menyenangkan. Hmm,rasa senang ini bukan karena hari kasih sayang itu, tapi terlebih karena dijualnya coklat-coklat dengan berbagai bentuk dengan rasanya wow,wanginya yang adu-duh, dan paling penting rasanya yang manis-manis pahit. Waktu masih di Malang, deh,enak nya bisa beli coklat-coklat buatan tangan. Sekarang mah di Surabaya, makan coklat yang beli di Giant saja lah. Maklum, tanpa transport dan pengetahuan (baca: kurang gaul,,hahaa), tiada tempat yang bisa dikunjungi untuk mencari barang so sweet itu. Kalau ada yang mau ngasih, akan diterima dengan sukarela kok,hehe.
Tanggal 13 hari Jumat, tadi ada artikel di Kompas.com tentang phobia angka 13 dan hari Jumat. Mitos-mitos yang menyenangkan kalau ada kisah-kisahnya.Ditambah lagi kalau malam harinya nonton film horor , suasana yang mendukung, nonton sendirian, deh, sensasi horor. Sesekali pasti menyenangkan. Asal jangan muncul yang beneran saja,heheheh. Heh, tiba-tiba jadi ingat rumah.
Sabtu, 24 Januari 2009
Masih Ada
Sekarang ini lagi senang-senangnya mendengarkan lagunya Ello yang judulnya Masih Ada. Rasa nya ada nuansa tenang dan senang (deh, bahasa diri ini makin lama makin menjadi aneh). Sambil dengar lagu itu, tiba-tiba saja terlintas di otak ini kalau tidak ada yang bisa memaksakan orang lain buat menyukai atau membenci sesuatu. Ya,ya, cerita lama dan banyak orang yang sudah tahu tentang hal ini. Bagaimana dengan menerima hal itu? Tidak semudah mengatakan "sudah tahu". Dan yang menulis ini tergolong salah seorang yang dengan susah payah menerima hal tersebut. Sulit untuk melibatkan otak saja.
Berpikir lagi tentang hal-hal di sekitar cukup membantu agar tetap punya semangat menjalani hari-hari. Sayangnya cukup menyita waktu. Prioritas lagi, ya, prioritas akan selalu berperan. Kebanyakan berpikir dapat membuat orang tidak menjalani kehidupan yang sedang berjalan. Menjadi melankolis meskipun hanya sedikit cukup membuatku kesal. Sama seperti orang yang terlalu banyak bicara tanpa isi. Yah, tapi yang tidak penting itu penting. Kalau hanya yang penting-penting saja, orang bisa bosan. Termasuk rasa bosan itu juga penting kan. Rasa apa pun yang menjadi warna-warni kehidupan akan tetap Masih Ada.
Berpikir lagi tentang hal-hal di sekitar cukup membantu agar tetap punya semangat menjalani hari-hari. Sayangnya cukup menyita waktu. Prioritas lagi, ya, prioritas akan selalu berperan. Kebanyakan berpikir dapat membuat orang tidak menjalani kehidupan yang sedang berjalan. Menjadi melankolis meskipun hanya sedikit cukup membuatku kesal. Sama seperti orang yang terlalu banyak bicara tanpa isi. Yah, tapi yang tidak penting itu penting. Kalau hanya yang penting-penting saja, orang bisa bosan. Termasuk rasa bosan itu juga penting kan. Rasa apa pun yang menjadi warna-warni kehidupan akan tetap Masih Ada.
Senin, 19 Januari 2009
Antara Ada dan Tiada
Tentang cita-cita, entah sudah berapa banyak kali aku menulis tentang hal ini. Hitung saja mulai dari SD, pernah beberapa kali diberi tugas karangan tentang cita-cita, saat SMP hingga SMA pun pernah diminta menuliskan atau sekedar ditanyakan tentang cita-cita.
Jadi ingat karangan saat kelas 4. Entah basa-basi apa yang ku tuliskan, hal yang aku ingat hanya kalimat terakhir dari paragraf penutupnya, “Aku ingin menjadi seorang polisi”.
Hahahaha, jika diingat lagi rasanya geli-geli mual. Pantesan saja setelah kalimat terakhir dibacakan saat itu, banyak suara yang nyeletuk “Weits..”, plus dengan wajah sang guru yang cuek sambil bilang “berikutnya”. Seiring berjalannya waktu, saat SMP cita-cita berubah lagi menjadi pemandu wisata atau penerjemah bahasa asing, perkataan asal-asalan tentang karangan cita-cita masa SD sudah terlupakan, malahan jadi tidak begitu menyukai (bahkan hampir alergi, emang bisa ya?) yang menyangkut militer-militeran.
Lain ceritanya di SMA, ingin jadi peneliti di bidang bioteknologi. Sampai hampir selesai kelas 3, masih saja kebayang yang satu ini. Malah sudah pernah ikut tes di salah satu universitas meskipun punya firasat dari awal kalau pada akhir nya tidak diterima, hahahaha. Nah, bersamaan dengan itu, ada keinginan lain untuk dapat masuk di bidang kesehatan di salah satu universitas di Bandung. Sekarang, sudah kuliah di bidang kesehatan itu dan lucunya, sempat terlintas cita-cita baru. Kalau dipikir (ketahuan kurang kerjaan mikirin khayalan,,), cita-cita terus muncul unjuk gigi dan sempat menghasut otak ini agar berkhayal sampai membuatnya tidak mau berpikir tentang yang ada sekarang ini. Deh, kalau begini, ini nama nya berada di atas awan, penipuan terhadap diri sendiri dengan seolah-olah apa yang ada sekarang ini tidak sesuai dengan keinginan dan bukan pilihan diri ini, istilahnya melempar kesalahan untuk membela diri. Padahal apa yang ada sekarang ini kan hasil keputusan pilihan diri sendiri. Oke lah kalau seandainya apa yang ada sekarang ini hasil keinginan orang lain terhadap hidup ini, tetap saja keputusan diri sendiri yang mengijinkan kenyataan sekarang ini ada dengan tidak memenuhi apa yang diri ini sebut dengan keinginan diri sendiri alias tidak mau mengejar cita-cita lalu menyalahkan orang lain ataupun keadaan. Tidak apa-apa, masalah pilihan juga tergantung takdir (deh, paling enak kalau kata “takdir” dah muncul, tiada yang bisa melawan lagi dah,,hahahaha).
Oke dah,,
Terimakasih buat yang sudah baca
^_^
Jadi ingat karangan saat kelas 4. Entah basa-basi apa yang ku tuliskan, hal yang aku ingat hanya kalimat terakhir dari paragraf penutupnya, “Aku ingin menjadi seorang polisi”.
Hahahaha, jika diingat lagi rasanya geli-geli mual. Pantesan saja setelah kalimat terakhir dibacakan saat itu, banyak suara yang nyeletuk “Weits..”, plus dengan wajah sang guru yang cuek sambil bilang “berikutnya”. Seiring berjalannya waktu, saat SMP cita-cita berubah lagi menjadi pemandu wisata atau penerjemah bahasa asing, perkataan asal-asalan tentang karangan cita-cita masa SD sudah terlupakan, malahan jadi tidak begitu menyukai (bahkan hampir alergi, emang bisa ya?) yang menyangkut militer-militeran.
Lain ceritanya di SMA, ingin jadi peneliti di bidang bioteknologi. Sampai hampir selesai kelas 3, masih saja kebayang yang satu ini. Malah sudah pernah ikut tes di salah satu universitas meskipun punya firasat dari awal kalau pada akhir nya tidak diterima, hahahaha. Nah, bersamaan dengan itu, ada keinginan lain untuk dapat masuk di bidang kesehatan di salah satu universitas di Bandung. Sekarang, sudah kuliah di bidang kesehatan itu dan lucunya, sempat terlintas cita-cita baru. Kalau dipikir (ketahuan kurang kerjaan mikirin khayalan,,), cita-cita terus muncul unjuk gigi dan sempat menghasut otak ini agar berkhayal sampai membuatnya tidak mau berpikir tentang yang ada sekarang ini. Deh, kalau begini, ini nama nya berada di atas awan, penipuan terhadap diri sendiri dengan seolah-olah apa yang ada sekarang ini tidak sesuai dengan keinginan dan bukan pilihan diri ini, istilahnya melempar kesalahan untuk membela diri. Padahal apa yang ada sekarang ini kan hasil keputusan pilihan diri sendiri. Oke lah kalau seandainya apa yang ada sekarang ini hasil keinginan orang lain terhadap hidup ini, tetap saja keputusan diri sendiri yang mengijinkan kenyataan sekarang ini ada dengan tidak memenuhi apa yang diri ini sebut dengan keinginan diri sendiri alias tidak mau mengejar cita-cita lalu menyalahkan orang lain ataupun keadaan. Tidak apa-apa, masalah pilihan juga tergantung takdir (deh, paling enak kalau kata “takdir” dah muncul, tiada yang bisa melawan lagi dah,,hahahaha).
Oke dah,,
Terimakasih buat yang sudah baca
^_^
Langganan:
Postingan (Atom)